Kamis, 01 Okt 2026
Beranda › Berita
Berita

5 Mitos dan Fakta Seputar Ketombe yang Perlu Diketahui

✍️ Dewi 🕒 22 Sep 2026 👁️ 6x dibaca
ketombe3
ketombe3 Foto: herminahospitals.com

Ketombe merupakan kondisi kulit kepala umum yang ditandai dengan serpihan kulit berwarna putih atau kekuningan. Kondisi ini seringkali disertai rasa gatal yang mengganggu.

Meskipun umum terjadi, banyak mitos seputar ketombe yang beredar dan dapat menyebabkan penanganan yang salah.

Penting sekali untuk memahami penyebab dan solusi yang tepat berdasarkan fakta ilmiah agar kulit kepala tetap sehat.

Ketombe dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Jamur Malassezia globosa adalah penyebab utama, jamur ini secara alami ada di kulit kepala kebanyakan orang dewasa dan dapat tumbuh berlebihan.

Jamur ini memakan minyak (sebum) di kulit kepala dan menghasilkan asam oleat, yang pada orang sensitif memicu iritasi dan pengelupasan sel kulit kepala lebih cepat.

Kulit kepala berminyak atau dermatitis seboroik juga berkontribusi karena produksi minyak berlebih menjadi makanan bagi jamur Malassezia.

Selain itu, kulit kepala kering juga bisa menimbulkan serpihan kecil, meskipun berbeda dengan ketombe berminyak. Sensitivitas terhadap bahan kimia dalam produk perawatan rambut dapat mengiritasi kulit kepala dan memicu ketombe. Stres tidak secara langsung menyebabkan ketombe, tetapi dapat memperburuk kondisi yang sudah ada dengan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Perubahan hormon, kondisi medis tertentu seperti eksim atau psoriasis, kebiasaan keramas yang tidak tepat, pola makan tinggi gula, serta kondisi scalp barrier yang terganggu juga merupakan pemicu ketombe.

Mitos 1: Ketombe Disebabkan Kulit Kepala Kering

Banyak yang percaya bahwa ketombe selalu muncul karena kulit kepala kering.

Namun, fakta menunjukkan bahwa meskipun kulit kepala kering bisa menyebabkan serpihan kecil dan tidak berminyak, ketombe yang sebenarnya seringkali dipicu oleh produksi minyak berlebih di kulit kepala.

Kondisi ini menjadi lingkungan ideal bagi pertumbuhan jamur Malassezia, yang menghasilkan serpihan ketombe berminyak dan kadang kekuningan.

Mitos 2: Ketombe Itu Menular

Ketombe sering disalahpahami sebagai kondisi yang menular dari satu orang ke orang lain. Namun, ketombe tidak menular.

Jamur Malassezia, penyebab utama ketombe, secara alami hidup di kulit kepala kebanyakan individu.

Ketombe muncul karena respons kulit kepala seseorang terhadap jamur ini dan faktor pemicu lainnya, bukan karena penularan dari kontak fisik atau penggunaan sisir bersama.

Mitos 3: Jangan Sering Keramas Saat Berketombe

Ada anggapan bahwa jarang keramas dapat membantu mengatasi ketombe. Justru sebaliknya, jarang keramas dapat memperburuk ketombe.

Tidak keramas secara teratur memungkinkan penumpukan minyak alami (sebum) dan sel-sel kulit mati di kulit kepala. Penumpukan ini menjadi sumber makanan bagi jamur Malassezia.

Keramas secara rutin, terutama dengan sampo antiketombe, membantu membersihkan kulit kepala dan mengurangi penumpukan tersebut secara efektif.

Mitos 4: Menggaruk Ketombe Sebelum Keramas Membantu Menghilangkannya

Beberapa orang mencoba menggaruk kulit kepala secara kasar untuk menghilangkan serpihan ketombe sebelum keramas. Tindakan ini justru dapat melukai kulit kepala, menyebabkan iritasi, pendarahan, dan bahkan infeksi.

Menggaruk secara berlebihan dapat memperburuk kondisi ketombe dan merusak folikel rambut, sehingga tidak disarankan.

Mitos 5: Ketombe Menyebabkan Rambut Rontok

Ketombe itu sendiri tidak secara langsung menyebabkan kerontokan rambut permanen. Namun, gatal yang parah akibat ketombe dapat memicu garukan berlebihan yang intens dan berulang-ulang.

Garukan ini dapat merusak folikel rambut, menyebabkan rambut patah atau rontok sementara. Kulit kepala yang sehat menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk pertumbuhan rambut.

Penanganan ketombe yang efektif memerlukan solusi yang tepat. Penggunaan sampo antiketombe yang mengandung bahan aktif seperti zinc pyrithione, selenium sulfide, ketoconazole, atau salicylic acid dianjurkan. Gunakan sampo sesuai petunjuk, pijat lembut pada kulit kepala, diamkan beberapa menit agar bahan aktif meresap, lalu bilas bersih.

Beberapa bahan alami juga dapat membantu mengatasi ketombe. Tea Tree Oil memiliki sifat antiseptik dan antijamur. Lidah buaya mengandung zat aktif antibakteri dan antijamur yang mengurangi peradangan. Soda kue dapat bertindak sebagai eksfolian ringan, sedangkan cuka sari apel membantu menyeimbangkan pH kulit kepala. Minyak kelapa dapat melembapkan kulit kepala kering, dan lemon atau jeruk nipis dengan kandungan asamnya juga efektif. Penting untuk menjaga kebersihan rambut dan kulit kepala dengan keramas teratur.

Selain itu, mengelola stres melalui yoga atau meditasi dapat membantu karena stres memperburuk ketombe. Perhatikan pola makan dengan menghindari makanan tinggi gula yang memicu peradangan dan produksi minyak.

Hindari juga produk rambut yang mengiritasi dan pilihlah yang lembut serta sesuai dengan jenis kulit kepala.

Penanganan ketombe yang efektif memerlukan pemahaman yang benar tentang penyebabnya dan pemilihan solusi yang tepat.

Konsistensi dalam perawatan dan gaya hidup sehat adalah kunci untuk mengatasi dan mencegah ketombe kambuh.

Disusun dengan bantuan penelusuran web dari: hellosehat.com, halodoc.com, kalbarprov.go.id, watsons.co.id, dove.com, zalora.co.id, siloamhospitals.com, youtube.com.

D
DewiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update